Pages

Pena dan Jemari, September 2013

Kamis, 10 Oktober 2013

 

Kisah Pertama, 2 September 2013
Di dadaku ini dalam dekap malam yang terisak ngilu
Terhitung tak lama dari pekan ini aku tuliskan rindu
Rindu yang tak urung berkurang lapisannya di kala sendiri
Seiring makin tebal halaman cerita yang menanti terlisankan diatas satu kesabaran untuk menunggu waktu.

Halaman cerita itu tersimpan dari detik ke menit lalu hitungan jam sampai pada gantinya siang dan malam beratus-ratus waktu. Rekaman nafas, kedipan mata, jejak kaki dan beribu percakapan yang tercipta ingin aku ceritakan. Pada siapa lagi semua bermuara selain padamu.

Aku terisak...
Meronta tanpa sadar pada Tuhan, mungkin disana Dia tersenyum karena do'aku atas permohonan petunjuk terkabulkan walau jatuh direlungku yang terasa pahit....
Tapi mungkin dari saat ini dua rahasia terbaca atas suratanNya tentang kisah ini

Kisah pertamaku,
saat satu kata "pacaran" ditinggalkan dan berganti pasrah pada pemilik hati, pengatur kehidupan, yang teryakini jika semua tercipta berpasangan, sementara aku atau kamu hanya bergantung pada giliran kapan Tuhan menentukan

Jika akhirnya dekat waktumu, sekali lagi ini adalah persoalan waktu dan urusan hatiku

Orange Jus, 6 September 2013
Orange jus ini ternikmati sendiri disela jingga milik sang senja yang merambat pupus terbilas awan malam

Selamat datang malamku! Teriak air manis bewarna orange dalam gelas bening mungil sederhana pengkhatam aluran cerita siangku yang berjalan panjang lewati adzan magrib di jalan, temui wajah-wajah penuh kasih sayang setelah sebelumnya mendengarkan cerita seorang teman yang berucap tentang kebahagiaan, lalu adik tingkat yang baik suguhkan segelas air minum atas rasa pedasku yang membakar seantero lidah sore tadi

Tuhan....
Kini giliran aku bicarakan tentang bahagia. Bahwa bahagia aku adalah semua yang ada disekelilingku, ketika aku mampu menelisik arti dari adanya mereka termasuk orange jus ini

Cukup.
Aku bahagia.
Terimakasih Tuhan.

Buat Perempuan Berkerudung Abu, 7 September 2013
Antara tebing bebatuan,
bunga cantigi,
kawah berasap,
dan langit tertutup kabut,
Kau seperti lenyapkan dahaga tenggorokmu pupuskan helaan keringat yang luruh dari keningmu
berjalan lantang sigap tantang dunia yang terkadang melow oleh cerita cinta 2 masa ambigumu; masalalu atau masadepan
lupakan!
tidak dengan itu nyatanya kau perempuan tegarku, melebihi aku yang katamu agendaku tak pernah surut
aku suka pada senyummu didepanku
aku terenyuh pada putaran kepalamu kala melihatku yang terengah dibelakangmu
aku tertarik oleh semangatmu
dan ini aku tuliskan untukmu syair Chairil Anwar berjudul Cerita;
Jiwa satu teman lucu
Dalam hidup, dalam tuju

Ia hanyalah seorang perempuan, 8 September 2013
Diujung risau yang menari ganas, ia berdiri pada tepian tebing kaya mimpi
Mimpinya terucap sederhana; jika waktu berpihak kaulah seorang yang duduk dengan lingkaran kembang melati yang menjuntai sampai dada

Ia hitung lembaran almanak menandai pergantian hari dengan balpoint merah merindu,
Ia peluk rangkaian rindu yang menerjang seluruh isi hati dengan mata terpejam beserta seulas senyum masyur; yakinnya jarak adalah bualan kosong karena hati yang terpaut tetaplah berbicara serupai Majnun dan Laila versi negri maritim
namun dunia tak berkehendak yang sama, ia berubah menjadi Rachel dalam kisah mengaharu ditahun 2000-Heart

Wahai kau kenangan yang riuh penuhi jelaga batin sebagai pembela duka yang merauk air mata, Ia nyatanya seorang perempuan yang tak pandai mengusir cinta maka redamlah gejolak asmara itu... dengan bisikan halus yang tak terdengar sampai Ia membuka telinga lalu kau bersuka dengan gejolak asmara bergaris takdirmu

Kau, Ia hanyalah seorang perempuan yang hidup dalam kenanganmu dan masa yang saat ini berpijak melihatmu

Jejak Engkau, 8 September 2013
; YK Gama dan Wish Giga

telah cukup waktu kau tiada dalam kebisingan senja dan heningnya subuh
baik ketika sadar maupun tidak aku koreh satu per satu abjad ditengah kolom pencaharian
karena limbung nampaknya kau hadir diurutan teratas lantas menyepi dan aku tak hafal kepulan asap nafasmu; terjaga atau tertidur dicelah tumpukan buku anakmu
belakangan aku berpikir nista bahwa kau sekedar rekanan samar yang lama aku kenal kemudian berakrobat menyapaku lugu dalam etos keasingan, Wish Giga

YK Gama,
aku tak lantas hilang kesadaran untuk mengingatmu
bahwa alam terkecil milikku pun serta merta kirimkan kesempurnaan senyummu dalam lelapnya tidurku
kali kapan aku terakhir berbincang denganmu, saksikan kebaikanmu memberiku sesendok sambal hijau dijamuan Ramadhan hitungan terakhir
sedang apa kau?
aku tetap menulis disini, membuka terus sajak-sajak penyair dahulu yang tak habis magnet ajaibnya
begitulah... aku tetap menjadi aku yang katamu sekolah dulu dan hargai tiap kata untuk diurutkan lalu abadikan

Dunia, 9 September 2013
Aku tak pernah tahu kapan akhirnya aku hidup sendiri
Dibelahan tanahmu yang penuh geliat hewan kecil
Lantas tiba ditepian gerbang yang kekal didalamnya
Sementara bibirku masih penuh ejaan berbau neraka; ghibah, tinggalkan Qur'an, malas hafalan, sakiti orangtua dan orang-orang disekitarku
Katanya malaikat turun disepertiga malam lalu disana tak bisa aku hempas pelukan setan maka waktuku untuk dekat hanya dengan Tuhan sia-sia begitu saja
Aku tak pernah tahu kapan akhirnya aku hidup sendiri bertabur bunga ditepi atasnya lantas ku ingat; kemana saja ku tabur rezeki titipan Tuhan selama ini? Serta bagaimana dengan shodaqoh tiap inci tulangku jika Dhuhapun sering aku nomer duakan ditengah riuhan aktivitas titipan Tuhan
Semuanya untuk dunia, lalu kapan bagian untuk akhirat, haruskah menunggu sampai aku tiba di akhirat? Tak mungkin....

Warna Pelangi Dev, 14 September 2013
Nyatanya aku berada dalam rentan masa bewarna pelangi
Biasan sinar tiap warna menderang tahap per tahap lapisannya
Termasuk cerita kita di dalamnya, Dev
Adalah putih dulu yang menaungi jejak kita bersama dengan putih-merah seragam kebanggan kita
Bersih kita dulu Dev…
Terjaga lisan dan tubuh dari maksiat karena belajar keras dan ranking 10 besar hinggap di benak kita setelah si boneka perempuan berambut pirang mainan kita
Lalu kemarin, hatiku bergetar hebat atas kabar tentangmu
luluhkan ingatanku ; Mata cantik milikmu, hitam kerap bulu matamu, dan senyumanmu
“Bagaimana rasanya?” Tanyaku kemarin
“Deg-degan serasa mimpi. Beberapa hari lagi soalnya…” Kau jawab seraya tertawa malu
“Nanti mandi pakai air bunga ini ya…” Teriak seseorang dari belakang yang memperjelas keberadaan kita
Bahwa ini peristiwa agung untuk hidupmu, Dev
Lelaki mana yang akhirnya berhasil membawamu dalam mahligai yang diridoi Illahi?
Malam ini, malam terakhirmu hidup tanpa ikatan
Rasanya aku ingin bersamamu, memegang tanganmu seperti dulu kita bersama atau esok aku peluk kamu diatas altar keabadian yang indah itu lalu melihatmu bahagia
Warna pelangi ada diantara kita Dev, direntan usia kita,
Satu per satu kita terlepas membangun impian 
Berkah untukmu…

Terkubur Malu
16 September 2013 pukul 23:19
Bisingnya malam hanya aku yang tak merasa
Berdiri-sendiri menuntut segenap kedamaian yang hilang bertahap dipalung dada
Ucap seseorang berdo`alah maka aku akan tenang
Tapi aku butuh lebih dari do`a sanggahku keras lalu pergi
Aku tergagap maknai rotasi ruang yang mendengus kesal kala ku hadir
Maka aku hanya bertemankan sajak-sajak lirihan rindu yang membentang erangan takdir
Aku tak akan terlelap malam ini Sayang atau mungkin seterusnya akibat takdir yang mengubah isi duniaku
Isi duniaku adalah kamu
Selain kamu aku terpejam
“Kita berjalan dalam risalah Tuhan Ris.. saat nafas berhembus saat itulah nikmat pemberianNya, saat lelah terasa saat itulah kasih sayangNya berisyarat untuk terlelap, saat ujian menghampiri uluran tanganNya tak lepas rangkul hidup kita, tapi ketika kita bersama saat ini aku fikir tak adil pada Tuhan”
 “Bersama atau berpisah inilah takdir Ris…”                           
 Kau yang halus bungkam mantra-mantra cintaku
Tersungkur diperadaban ini, mengumpulkan remahan sisa-sisa harap
Akhirnya aku tumbang terkubur malu; olehmu dan Tuhanmu, Tuhan kita

Ya Allah Ya Salam, 17 September 2013
Kau hadir disepanjang ruas pandang
Menelisik kharismatik celah-celah egoku
Pendam luapan lisan tak terjaga hingga ku terdiam dan mengerti isyarat kebaikan
Rabbi…
Tak aku temui selain Engkau dalam resah dan bahagiaku
Kau suguhkan kesetiaan tanpa batas meski sering ku cari selain dariMu untuk tuntaskan gelisah serta bermain asmara dunia yang berujung sesal saat ku lalui jalan yang tak berserta ridhoMu
Rabbi…
Kebahagiaan hakiki adalah menempatkan Kau di dasar  dan permukaan hati hingga tiap langkah, lisan dan lampah tertanam nama keAgunganMu
Namun, seperti inilah manusia yang dhoif…
Selalu terlena belaian-belaian palsu duniawi
Rabbi…
Aku bertanya tentang ampunanMu
KekasihMu, Rosulullah… atas jaminan surga dan ampunanMu padanya tak lekang setiap hembusan nafas tersuguhkan untuk ibadah kepadaMu
Tapi, bagaimana dengan diriku?
Ampunan dan Surga Engkau yang harus terus diperjuangkan namun kedzoliman diri tak luput dari ruas-ruas organ yang melampah
Rabbi...
Ya Allah Ya Salam

Abdi Diri, 18 September 2013
Pada akhirnya kita sama-sama terpejam, mengeja sunyi dipelataran malam. Terkadang naluri hendak terbang, melanglang diksi istimewa untuk sebuah puisi. Jika sang tunas harapan bernama jantung dibebankan tugas mulia atur kerja darah berarti puisi ini adalah alat perekamnya, pengabdi tiap tetesan lalu sampai di ubun kenangan.

Ku telah coba mengerti, bahwa dunia berbaik hati pijamkan separoh tanahnya untuk ku tapaki. Membangun jiwa yang segar setiap pagi, termahsyur cadas langit ekor jejak pribumi diwaktu menderangnya mentari hingga mengurut senja.
Langkah...langkah... Seruan tajam hanguskan tanda tanya tak bermakna, karna hidup selain untuk terpejam adalah untuk mengabdi.

Abdi diri untuk Tuhan, pelukis sempurna pembangun masa pagi, siang dan malam.
Abdi diri untuk sesama yang turut berbagi separoh tanah yang lain.
Abdi diri untuk hari kekal abadi.

20 September, 19 September 2013
Malam dengan aneka rupa; purnama, hujan, angin dingin
Telah datang sendiri rongga dada berjubah bait puisi untuk mengenang malam di kota yang sama 20 tahun kebelakang

Memeluk Mamah, 20 September 2013
Kulit kita saling menyapa singkirkan dingin malam berdua diantara lembabnya pori-pori dan kasih yang membuncah

Baumu Mah, semerbak harum khas yang hanya milik kau di dunia ini bersama sentuhan penyelimut hangat rindu-rindu yang menanti tersapa

Memelukmu Mah, saat istimewa yang Tuhan berikan, meski sering rohku tak peka bahasa hatimu akibat gunungan ego labilku namun sampai kapanpun tautan fisik diantara kita adalah pertalian insan yang saling mencinta karenaNya

Sebab,
tak kutemui tulus seikhlas tulusmu
sayang sesempurna sayangmu
pengorbanan sebesar pengorbananmu

Memeluk Mamah, bercerita hati ke hati tentang; gelisah, bahagia dan rupa rasa pewarna hidup

Memeluk Mamah, memahami arti sabar dan ketulusan

Selamat Ulang Tahun, 22 September 2013
Di detik-detik menuju persinggahan dermaga mimpi kau seolah bermain diingatanku.
Memori panjangku rupanya memutar drama keberadaan kau dan aku dahulu, yang ucap kau; semua adalah takdir.
Aku setuju.

Merujuk ratusan hari dibelakang kita, dimana 14 purnama ku tandai menjadi masa tersakral per hitungan bulan, kau bersinergi dengan ruas-ruas malam dan siang yang ku lalui.
Sampai pada tanggal istimewa yang tertandai dalam almanak ingatanku.

Kau, tetaplah kau yang dulu bahkan mungkin berubah; berubah menjadi lebih baik dalam berbagai hal.
Do'aku ditahun ini dalam beberapa bait puisi yang ku tulis tanpa bingkisan kenang-kenangan; semoga sinar menderang purnama dilangit sana menyerupai langkah-langkah engkau dalam meniti jengkalan kehidupan terhitung dari esok hingga seluruh mimpimu tercapai.

Aku telah cukup puas dengan keberadaan kita sekarang, sahabatku selamat ulang tahun berkah Allah untukmu.

Merpati Putih, 23 September 2013
Malam ini aku tidur duluan,
karena bagian terbesar nalarku memilih lenyap terhunyun mimpi yang lebih cepat musnahkan aneka dusta yang bercabang dari bibirmu

Telah aku kuasakan hadirku pada sarang laba-laba disekitaran rumahmu jika kau butuh aku untuk duduk dan dengarkan seluruh isi hatimu yang maniak untuk di dengar

Menjadi cinta merpati yang selalu putih nyatanya aku bosan, mata-mataku yang senantiasa diguyur keluguan menatapmu tanpa bisa berkata "Tidak!"

Tiba jika waktu harus aku buat cerdik, menghitung berapa banyak kelemahan diriku di hadapmu selama kau usung garis kesetiaan yang terbuat untuk penjarakan mobilitas hidupku

Merpati putihmu, ingin terbang melihat dunia yang kata orang papa neraka akibat terkerus habis oleh serakahnya si kaya penikmat surga uang... Bagaimanapun itu menjelang wafat isyarat kekuasaan Tuhan harus aku temui biarlah berawal dari mimpi kebebasan

Kopi Manis, 24 September 2013
Ia menjamuku dengan harum kopi pagi ini,
ku tahu pasti bagaimana ia tuangkan berbagai harapan ditiap guyuran air panas serta putaran sendok teh yang beradu denting dengan cangkir ayam jago
aku minta jangan terlalu banyak gula, hingga mengertilah ia bahwa hidup yang terlalu manis menjemukan tapi menjadi tujuan akhir karna siapa mau si pahit bertahan lama sebagai penguasa hari
sorot matanya teduh, tak pernah meminta mimpi yang terlampau jauh, cukup meminta hati yang selalu menengadah do'a dan keringat yang bekorban ikhlas raup celah-celah rezeki lalu pulang dengan segudang cerita dan santap jamuan malamnya

Berbeda, 24 September 2013
Selamat malam langit! Sekarang aku cari purnama yang hilang di ufuk hatiku, ia berlalu manakala aku berdiri dirimbunan khalayak. Mungkin ia tak suka bising manusia, karena baginya hidup damai tanpa sorak sorai miliki makna istimewa. Sedang aku adalah protokoler, rentetan kalimat susuri abjad, majas sampai prosa meretas anak cucu satu darah berirama sama. Kau yang diam dan aku yang banyak bicara, mengusung tema perbedaan jika kita menyatu. Namun hay! Nasihati aku untuk tutup luapan lisanku yang tak terjaga, beri aku separuh ketenangan dirimu yang lama luput tak ku temukan dimana jatuhannya ada. Biar kita sempurnakan langit sama-sama bersinar, seperti bintang dan purnama.

Karena Allah, Sahabatku..., 24 September 2013
Coba untuk dipahami, sahabat hadir lebih dari teman berbagi cerita. Sahabat hadir lebih dari pengisi hari-hari agar lebih berwarna. Sahabat hadir lebih dari penghapus air mata. Sahabat hadir lebih dari pengulur tangan tatkala diri tak mampu sempurna lengkapi titah kehidupan. Sahabat hadir adalah perwujudan karunia Allah yang Maha Penyayang dan Pengasih. Kala persahabat goyah berpikirlah sebagai ujian yang harus dijawab bersama sampai mana kita menyayangi dan mencintai sahabat-sahabat kita karena Allah.

Sahabat-sahabatku, aku mencintai dan menyayangimu karena Allah
.

Jangan menangis yah Bu... 26 September 2013
Ibu...
Maaf aku tak mampu bernafas di duniamu, detak jantungku tiba di akhir hitungan, setelah ini tak akan kau dengar detak-detak yang kau nanti dalam perutmu, begitupun dengan gerakanku.. Bersisa sepi karena aku tidur tanpa terbangun lagi tidak terlebih dahulu melihatmu, menatap binar kasih sayang dimatamu, merasa hangat pelukmu...

Ibu....
Tuhan beri aku waktu sampai disini, meringkuk di ruang lembab penuh cinta, rasakan belaian Ibu meski ada kami tak lantas saling memandang...

Ibu...
Rahimmu tempat terindahku, disini aku dengar do'a-do'amu agar aku selamat lahir di dunia dan menjadi anak solih, terimakasih untuk do'amu Ibu namun biarkan aku tunggu kau di surga ketika tiba pertemuan kita...

Ibu...
Jangan menangis, air matamu tak akan mengubahku kembali bernyawa di rahimmu. Aku melihatmu Bu, aku pun sedih tapi tegarlah pasrahkan pada Tuhan yang mengatur hidup kita karena Dialah yang Maha Pengasih tak akan biarkanmu dirundung duka...

Ibu...
Aku pergi sekarang, jangan menangis yah! Salamku untuk Ayah dan Kakak-Kakakku. Tidak ada yang salah darimu, terimakasih atas cintamu aku hanya bagian dari ujian Tuhan atas keikhlasanmu...

Aamiin... 27 September 2013
Hanya ini yang dapat ku berikan; puisi tanpa majas sempurna untuk hiasi cakrawala dengan bait sederhana

Cinta, orang bijak berucap tak selalu harus bersama
Tapi yang tidak bersama itu adalah kesakitan, ketir di relung dada karna mana bisa aku hidup seorang diri
Memohon pada Tuhan untuk bingkiskan seorang yang terjaga sisi-sisi batinnya disaat jarak menjadi kekuatan berbungkus seluruh rasa
terutama rindu,
Menjadi lembar-lembar luar biasa dalam masa penantian karna jika telah bertemu rona merah dijadikan warna paling sempurna meninggalkan mimpi setiap malam dalam sunyi
menaburkan cahaya esok hari dengan langkah extra genggam dunia raih singgasana surgawi

Selamat Tinggal
, 29 September 2013
Pagi bertemu pagi Ia bernyanyi, senandungkan sapaan termesra untuk dunia
Kalahkan matahari yang terlambat bersinar, Ia menumpahkan memoar berbinar dari sudut-sudut mata sementara bermacam kenangan tumpah ruah tertatap orang
Begitu transparan sampai nada-nada mengibaan tertuju
"aku tak akan memaksakan senyum yang tak pantas aku dapatkan"
adalah cinta yang juga menjadikan diri lenyap dari kesadaran, ketulusan membuatnya berperang dengan akal sehat
pun cinta yang menyiapkan rasa ketir diujung dada karena esok atau kapan akhirnya berlalu dengan ejaan; selamat tinggal

Hujan, 29 September 2013
Senja yang lirih hitung tapakan hujan diatas tanah
Qasidah rindu ini terbenamkan awan-awan bewarna emas, dia matahari tetaplah baik hati sembunyikan sendu dipelataran sudut hati
Namun yang satu dan pasti, puisi ini tembus sukma mencari arti seribu bayang bahagia hayati gemuruh nadi dilereng takdir dan waktu
Lantas hujan mungkin berdzikir menabuh dinding-dinding dada yang menganga sekerat genggaman tulus meski tergagap sendiri namun hari yang manis tak akan di buat menangis
walau hujan terkadang pewakil aduan untuk cinta sejati yang teridhoiNya
bukankah waktu mustajab untuk do'a disaat hujan turun
Biarlah sunyi jika selamat dunia-akhirat sebagai pengganti,
InsyaAllah

2 komentar:

TS Frima (Rian) mengatakan...

puisinya bagus-bagus. kenapa tidak diposting satu per satu saja? :)

I`m to you mengatakan...

saya buat perbulan, kebanyakan kalo satu-satu hehe. makasih sudah berkunjung :)

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS