Pages

Untuk Sekolah Nafas Terakhirku…

Kamis, 07 Juli 2011

Prolog…



“Seperti yang diberitakan, bahwa angka kenaikan pengemis tepatnya di daerah Jombang, Jawa Timur melonjak ketika liburan sekolah tiba. Para pengemis tersebut terdiri dari Ibu serta anak-anaknya. Miris sekali mendengarnya, ketika hampir seluruh anak-anak di Indonesia sukacita menyambut liburan sekolah yang mengisi waktu libur mereka dengan rekreasi, berkumpul bersama keluarga, mengunjungi area bermain outdoor maupun indoor namun ternyata ada fakta yang muncul bahwa segelintir anak-anak serta para Ibu di beberapa daerah tertentu turun kejalan untuk mengemis, agar bisa membeli seragam sekolah baru. Benar yang disampaikan stasiun TV tersebut: Lalu, bagaimana dengan UUD BAB XII PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PASAL 31 ayat 2 serta UUD BAB XIV PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL PASAL 34 ayat 1. Disaat, Indonesia tengah gencar dengan pemburuan sang `Udin Sedunia` yang sekarang entah berada dimana, kasus surat palsu, suap-menyuap, yang mengerucut pada tindakan korupsi.”

Untuk Sekolah Nafas Terakhirku…
Adi…

Pagi ini matahari sedikit bersembunyi, tetes-tetes kecil air dari daun kuping gajah milik Emak masih turun ke lantai pelur warna hitam semu abu pekarangan rumahku. Semakin dingin terasa udara ini, semakin pula aku tenggelam ke alam mimpi dengan bantal yang sudah hilang kenyamanannya serta selimbut lusuh yang entah kapan mau Emak ganti, kalau bukan karena hujan tadi malam mungkin aku tak akan berlama-lama disini dikerumuni rasa malas karena hangatnya yang begitu memabukkan.

“Adi…” Teriak seseorang dari luar yang tak lain adalah Emakku, aku lihat jam yang menggantun di dinding batubata tak bercat yang berbeda dengan di rumah-rumah pada umumnya, pukul 7 lebih beberapa menit. Aku menguap lalu sesegera mungkin membereskan selimbut bercorak harimau warna coklat di tempat biasanya sebelum teriakan Emak kembali terdengar

“Iya Mak, belanjaannya banyak?” Tanyaku keluar dari kamar

“Beresin di warung Di!” Perintah Emak lalu pergi menuju dapur

“Kok banyak tanah gini Mak, kotor” Ujarku menatap segan belanjaan Emak dari pasar

“Kalau gak mau kotor, belanja di minimarket! Tadi subuh aja masih hujan, panteslah gitu juga!” Sahut Emak dari dapur setengah berteriak. Tak banyak bicara lagi, aku angkat dua kantong keresek besar bewarna hitam ke warung, kantong keresek itu berisi makanan ringan atau lebih tepat jajanan pasar sementara kantong keresek lain berisi makanan mentah seperti ikan asin, ayam, tulang-benulang sapi, tempe-tahu, serta sayur-mayur yang sudah dalam kemasan contohnya: jamur, jagung semi, jagung manis, cabe merah, kentang yang sudah di kukus, wortel, dan masih banyak lagi, terakhir sisanya berisi bumbu-bumbu untuk memasak. Lalu keranjang biru tua teman Emak berangkat ke pasar yang masih belum aku bawa ke warung berisi sayuran hijau, kangkung, bayam, beserta sobat-sobatnya. Betapa hebatnya aku ini, calon bapak rumah tangga yang baik dengan mimpi sekolah setinggi-tingginya…

****

Emak…

“Assalamualaikum Adi….” Salam seseorang dari luar

“Di, temen-temenmu dateng ya?” Tanyaku lalu membukakan pintu

“Pagi Mak, Adinya ada?” Tanya Icha teman dekat Adi di sekolah setelah mencium tanganku

“Ada di warung… ayo masuk!”

“Yang kesini cuma Icha aja Mak!” Seru Adi setelah melihat aku dan Icha menghampirinya, beberapa menit kemudian aku lantas meninggalkan mereka untuk kembali berkutat dengan nasi yang sedang di nanak di dapur

“Teman-teman yang lain sudah daftar sekolah loh Di! Kamu tau gak? SMA Negeri yang paling bagus itu malah sekarang ngadain testnya…” Ujar Icha yang sedang membantu Adi mengeluarkan isi belanjaan

“Sayang ya Di! Cita-cita kita sekolah disana gak kecapean, sekolah bagus pasti prestasi muridnya juga oke-oke…” Lanjutnya dengan nada menyesal

“Loh emangnya kalo gak sekolah di sekolah unggulan gak bisa punya prestasi oke juga? Cha, lebih baik jadi kepala kucing dari pada ekor harimau, yang penting sekolah dapet ilmu terus amalin” Sahut Adi tanpa menatap lawan bicaranya

“Yaaa…tetep aja Di, aku kecewa sama orangtua aku, kamu sendiri taukan 3 tahun di SMP prestasi aku gak jelek-jelek amat, otak aku masih bisalah ngejar mereka-mereka yang cuma ngandelin duit!” Seru Icha menggebu-gebu

“Hush! Gak boleh ngomong gitu Cha, kamu harusnya bersyukur masih bisa lanjutin sekolah, lagipula sekolah pilihan orangtua kamu itu gak jelek kok! Kamu bisa jadi mutiara disana..”

“Iya-iya… terus kamu sendiri gimana Di?”

“Aku maunya di SMK 12….”

“HAH? Adi itu kan SMK khusus putri, akutansi, tataboga…” Mata Icha hampir keluar mendengar jawaban dari anakku itu

“Biar murah Cha… kan aku udah bilang yang penting sekolah, dapet ilmu, terus amalin. Gak tega aku liat Emak kesusahan, udah susah ditambah sekolah aku dan adik-adikku…”

“Adi… bisa gak sekolahnya tahun depan saja?” Tanyaku akhirnya memberanikan diri keluar dari dapur setelah mempertimbangkan permasalahan ini selama beberapa minggu

“HAH, Emak… memangnya Adi mau masuk kuliah yang bisa ditunda-tundah…” Ucap Icha sontak, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya

“Mohon maaf, Icha pamit pulang… maafin Icha ya Emak, adi!”

****

Percakapan tadi pagi, tidak aku perpanjang lagi. Putraku itu harus tetap sekolah, bagaimanapun keadaan kami sekarang, aku yakin Adi bisa bertahan, dengan uang tabunganku serta pinjaman dari beberapa orang mungkin aku masih bisa nego dengan pihak sekolah karena baru mampu menutupi setengahnya dari biaya masuk yang telah di tetapkan. Adi telah memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMK yang membuat mata Icha, sahabatnya membulat. Mungkin Icha tak percaya, begitupun aku.. memiliki anak yang amat mengerti keadaan orangtua.

Yaaaa…. Sekarang akan aku temui putra pertamaku itu untuk memberikan kabar gembira ini, besok pagi pulang dari pasar aku akan membawa dia untuk daftar ke sekolah itu, sementara dagangan telah aku titipkan ke tetangga sebelah yang mengerti keadaanku sehingga aku tidak perlu khawatir tidak ada pemasukan untuk hari esok. Lepas magrib, biasanya Adi diam dikamar untuk mengaji Al-Qur`an yang suaranya selalu terdengar sampai ke warung, namun saat ini aku tidak mendengarnya sama sekali, oh mungkin dia baca dalam hati atau bisa juga ketiduran karena cape membantuku di warung seharian ini.

“Adi…..” Kataku membuka handel pintu

Betapa beruntungnya aku memiliki putra sholeh seperti dia, masih diatas sadjadah dengan Al-Qur`an yang telah menutup, aku dapati dia sedang terkulai lalu tak jauh dari tubuhnya terdapat kertas yang kemudian aku baca sebelum memegang tubuhnya : Emak maapin adi… segera aku balikkan tubuh Adi, badannya dingin, di permukaan wajahnya masih ada air mata yang belum kering, namun dia sudah tidak bernafas…
Innalillahi… Aku seorang Ibu tidak percaya mendapati anak lelakiku sudah tidak bernyawa karena beban fikiran yang terlalu berat dia pikul, maafkan Emak Nak…Sekolah yang kamu inginkan terlalu jauh hingga mencapai surga..

-Selesai-

“Mengharukan sekali negeriku ini… dan sahabat yang kalian baca diatas adalah sebuah kisah nyata dari tanah tempat aku tinggal selain kisah pengemis di Jombang, Jawa Timur.. sungguh betapa beruntungnya kita dengan rezeki serta nikmatNYA diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dibangku sekolah, semoga pendidikan di Indonesia berjalan jauh lebih baik.."

Eno, 7 Juli 2011

10 komentar:

Adittya Regas mengatakan...

hikkss hikss hikss :'(

Eks mengatakan...

ya ampun...

John Terro mengatakan...

tidak semua pengemis itu miskin

Masjier mengatakan...

dulu orang tua saya juga terpaksa jual kambing buat bayar uang sekolah. Tapi alhamdulillah tidak sampai turun ke jalan.
semoga pemerintah benar - benar memperhatikan pendidikan di negeri ini. terutama fasilitas bagi mereka yang kurang mampu.
salam masjier

r10 mengatakan...

pendidikan gratis untuk semua, pemerintah masih gagal

NuellubiS mengatakan...

kasiaaan sekali.... huhuhuhu...... :(

Arief Bayoe Sapoetra mengatakan...

Cerminan salah satu dilema & problema bangsa ini yang tak selesai-selesai, semoga saja ke depan akan lebih diperhatikan,

affie9 mengatakan...

ckckck. kenapa ujung2nya harus mati?

Jeng Atoes mengatakan...

jiahhhh ko jadi tragis gitue akhirnya, tapi oke ko

salam kenal yah

Aishi Lely mengatakan...

sedih endingnyaaa.... :(
semangat menulis yah ^^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS