Pages

Undangan

Kamis, 13 November 2014






Bangun. Harum bunga mawar tercium sampai kamar, aku menoleh pasti karena jendela yang lupa aku tutup semalam, gigil angin dingin merambat sampai tulang-tulangku. Harum mawar dari taman milik ibu yang terletak di samping kamar belum usai semerbakkan kamarku ini sementara telingaku menangkap bebunyian air yang jatuh ke tanah juga hembusannya yang ku bayangkan menyiram bunga-bunga itu. Dengan langkah yang berat aku turun dari kasur untuk menutup jendela, pagi ini aku ingin tidur atau bahkan biarkan 24 jam putaran waktu hari ini aku diam dalam kamar. Kepala seolah berputar, pusing tiada ketara meski jendela hanya berjarak tiga langkah dari tempat tidur namun tubuhku bak tak bisa menopang langkah kakiku. Jendela yang letaknya percis berhadapan dengan meja kecil tempatku biasa menulis surat cinta untuk pujaan yang tak mampu ku ungkapkan lewat lisan. Menuju jendela sama dengan aku duduk di meja itu yang artinya aku urai lagi tangis semalam yang belum sirna. Lihat mataku di bayang cermin, sempurna sembab, bengkak, rapat, saking derasnya cucuran air dari dalam mataku.
            Benar-benar ngilu, benar-benar sakit, terlebih saat aku berdiri tepat di depan jendela pun di depan meja yang berantakan oleh kertas-kertas warna merah muda. Semalam aku curahkan seluruh isi hatiku, hati yang tiga tahun ini terjejal oleh harapan cinta, bunga-bunga yang tumbuh dalam hatiku, hari demi hari yang malamnya ku tutup dengan penantian, maka ku tulis gejolak rasaku dalam keras, lantas aku tidur ditemani dengan bayang kehadiran seorang dia yang selama ini aku kagumi dalam diam, kemudian mimpiku adalah miliki dia seutuhnya, hidup dalam kebahagiaan aku dan dia dalam sakralnya pernikahan.
            Dan semua rutinitas malam hariku harus aku pupus secara paksa semenjak hari kemarin saat amplop yang bewarna sama merah muda sampai ke tanganku.
            “Kantor sepi sekali Sa, pada kemana ya?”
            Elsa menghiraukan pertanyaanku kami berdua menunggu pintu lift terbuka sampai masuk ke dalam lift aku edarkan pandang, dalam lift ini hanya ada aku dan Elsa sementara hari-hari biasanya penuh oleh sesama rekan kerja.
            “Sa....”
            “Apa Sof?”
            “Iya, orang-orang pada kemana sih?”
            “Kamu nanyain semua orang atau cuman cari satu orang yang dari awal pintu masuk sampai lift ini belum kamu lihat?”
            Aku mengernyitkan dahi yang beberapa detik kemudian berubah senyum di bibirku, Elsa tepat sekali.
            “Sof, aku sebetulnya males tanyain ini ke kamu soalnya kalimat yang keluar dari mulutku akan sama kaya sinetron tapi ya... sudahlah sekali-kali, aku memang harus bertanya ke kamu langsung”
            “O..em...ji Elsa mau nanya aja pake prolog sinetron segala, apa-apa silahkan....”
            “Kamu dari sejak kapan menganggap aku sahabat?”
            “Lama.. dari SMA bukan ya?”
            “Oke fix, SMA sampai sekarang kerja berarti 10 tahun, bukan begitu?”
            “SMA 3 tahun, kuliah 4 tahun, kerja sekarang 3 tahun....”
            “Tapi... kenapa kamu tak pernah bicara tentang rasa sukamu?! Aku jadi bingung, kamu menganggap aku sahabat atau tidak... padahal jika terjadi apa-apa denganmu saat kamu senang aku akan jauh lebih senang dan saat kamu sedih aku akan rasain dukanya, kamu terlalu menyimpannya rapat... seorang diri.... cinta dalam diam yang kamu bilang”
            Sreeeeet pintu lift terbuka, Elsa melangkah ke luar sementara aku masih mencerna rentetan kalimat yang baru selesai dia bicarakan, punggung Elsa semakin menjauh tanpa menoleh padaku tak lama orang-orang masuk ke dalam lift, aku mundur ke belakang, ikuti alur lift yang akan membawaku ke lantai berikutnya.
****
            Ramai sekali lantai tempat ku bekerja sebagai editor naskah berita, beberapa wartawan lalu lalang dengan senyum yang merekah, Aldais wartawan baru yang namanya sedang naik daun karena beritanya yang mengangkat kisah hidup seorang nenek tua renta di daerah pelosok Jawa Barat hingga membuat perhatian dari pemerintah kini lambaikan tangannya padaku.
            “Ke sini Mbak Sof!”
            “Apa Al? Kamu sudah setor naskah?”
            “Sudah Mbak, tapi ini ada berita yang lebih fenomenal.....”
            Aku mendekat ke bilik kerja tempat teman-temanku berkerumun. Semua memasang wajah senang bahkan ada yang sampai berteriak-teriak saking expresif dengan perasaannya. Ku lihat Winda yang terkenal dengan ke-lebayan-nya hingga menitikkan air mata.
            “Eh orangnya sekarang dimana ya? Gue belum lihat....”
            “Ah gila bikin penasaran aja suer!”
            “Hahaha udah dipingit kaliiiii, calon pengantin!”
            Potongan percakapan yang ku dengar selintas, pengantin? Siapa yang menikah?.
            “Huhuhu... Sof, undangan buatmu aku simpan di meja kerjamu! Liat gih supaya gak bengong gitu....” Winda berkata padaku sambil menyeka air matanya, aku mengurungkan langkah ke kerumunan itu, cepat aku balik badan dan berjalan ke bilik kerjaku.
            Amplop warna merah muda yang di bungkus plastik kemudian diberi stiker putih dengan tulisan; Kepada Latifa Sofie. Sambil membuka bungkusan plastik aku jatuhkan tubuhku ke kursi tentu dengan pikiran penuh tanya siapa gerangan pengundang pernikahan ini. Bersamaan dengan satu tarikan nafas aku buka isi ampop itu dan ku baca jelas nama yang tercantum di sana.
            Cinta dalam diamku. Nama yang ku sebut dalam puluhan surat merah mudaku sebelum tidur.
            Radian Fajar Gumelar.
            Kakak kelasku, kakak tingkatku dan bosku di kantor.
            Aku ingat kalimat yang Elsa katakan kamu terlalu menyimpannya rapat... seorang diri.... cinta dalam diam yang kamu bilang...
            Sekarang aku tak lagi diam, untuk pertama kali nya aku curahkan isi hatiku, dalam tangis yang perlahan kemudian mengundang perhatian seisi ruangan yang hening seketika. Orang-orang mengerumuni bilik kerjaku, Elsa datang entah tahu dari siapa berita ini. Mungkin sebelum aku mengatakannya dia sudah tahu aku telah mimpikan lelaki itu menjadi pasangan hidupku. Masih dalam tangis yang mengundang iba dia membawa aku ke dalam pelukannya.
****
            Tok...tok...tok....
            Suara ketukan pintu terdengar, setelah melamunkan kejadian kemarin aku gagal kembali tidur, aku malah duduk di meja ini di hadapan puluhan kertas merah muda yang amat berantakan. Aku lihat jam digital yang menunjukan pukul 07.30, tak terasa satu jam aku melamun dan sekarang mempelai pria mungkin sedang bersiap untuk pergi dari rumahnya.
            Tok...tok...tok...
            “Aku masuk ya?”
            Suara Elsa, tak mengapa biarlah waktunya dia tahu semuanya. Tanpa menunggu jawaban dariku pintu kamar terbuka, sosok Elsa dengan rambutnya yang diikat satu sambil membuka kacamata silvernya masuk, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar kemudian tiba matanya bersitatap denganku.
            Aku menarik ujung-ujung bibirku untuk tersenyum, lebih tepatnya memaksakan senyum. Elsa mendekat, dia kini bersimpuh di lantai setengah duduk.
            “Kusut sekali Sof....” katanya dengan tangan yang memegang wajahku.
            “Maafin aku ya Sa....” ucapku parau.
            “Gak ada maaf-maafan Sof, kamu sendiri yang sering bilang pilihan hidup selalu ada konsekuensinya”
            “Hahaha jadi ini mungkin konsekuensi buatku ya, diam dengan perasaan lantas tak mendapatkan cintaku...” aku tertawa getir, tawa yang justru mengundang titik bening di sudut mata Elsa.   
            “Tuhkan Sa, maaf ya....”
            Elsa cepat menggelengkan kepala dia lalu berdiri dan memegang pundakku.
            “Sof, aku ke sini tak akan memintamu menceritakan bagaimana perasaanmu, sejak kapan rasa itu tumbuh dan seperti apa wujud mimpimu atau menuntut kenapa kamu tidak bercerita sedikitpun padaku, sebagai sahabat aku ingin mengajakmu hadapi kenyataan biar pahit namun harus tetap kamu lewati. Kamu harus saksikan cinta yang kamu simpan bahagia dengan cintanya, sebab sebagaimanapun cinta yang kamu miliki rencana Tuhan pada makhluknya tak akan berubah dan kamu harus menerimanya, mulai dari detik ini....”
            “Maksudmu aku harus datang ke pernikahan itu, Sa?”
            “Jika kamu sanggup....”
****
            Cinta.
            Tak pernah terlintas sedetikpun kejadian ini menimpa hidupku. Tuhan, tak pernah pula aku do’akan dia hidup dengan yang lain terkecuali denganku. Tuhan tak mengabulkan do’aku karena Dia tahu kebahagiaan aku dan dia tidak dalam satu ruang cinta.
            Aku menarik napas panjang, beberapa langkah lagi aku sampai ke pelaminan tempatnya dia dan yang sekarang menjadi istrinya memasang senyum pada tamu-tamu yang datang.
            “Makasih ya Sof, Elsa udah dateng....”
            “Sama-sama Mas!”
            “Eh kita foto dulu yuk.. Sofie dan Elsa ini teman sekolah sampai kantorku Yang, yuk foto!”
            Blize kamera memotret kami, aku berdiri di sampingnya dan memasang senyum. Aku tahu teman-teman kantorku yang hari kemarin menyaksikan kejadianku mereka ada melihat kami. Aku harap semoga mereka diam, mulai detik ini juga aku akhiri cintaku dan amat aku harap kejadian ini cukup sebagai pengalaman pertama dan terakhirku. Aku ingin bahagia, dengan jodohku yang Tuhan tetapkan.
-SELESAI-

1 komentar:

Rizal Fauzy mengatakan...

Suka ceritanya.. (y)

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS